Politik Identitas: Tantangan Terbesar Demokrasi Modern
- account_circle hipkacianjur
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Demokrasi sering kali diagungkan sebagai sistem terbaik untuk menyalurkan aspirasi rakyat secara damai, rasional, dan inklusif. Melalui pemilu, masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, dan kelas sosial memiliki hak yang setara untuk menentukan arah masa depan bangsa. Namun, di balik kemegahan idealisme tersebut, demokrasi menyimpan celah kerentanan yang kerap dimanfaatkan oleh para aktor politik pragmatis: politik identitas.
Ketika identitas kelompok—baik berbasis suku, agama, ras, maupun golongan—diseret ke dalam arena perebutan kekuasaan, politik tidak lagi menjadi ajang adu gagasan atau program kesejahteraan. Ia berubah menjadi medan perang emosional yang membelah masyarakat ke dalam kategori “kita versus mereka”.
Wajah Asli Politik Identitas di Ruang Publik
Politik identitas bukanlah fenomena baru, baik di Indonesia maupun di kancah global. Secara sederhana, politik identitas merujuk pada penggunaan atribut-atribut kelompok primordial sebagai alat mobilisasi massa.
Dalam praktiknya, bentuk-bentuk manipulasi identitas ini kerap muncul melalui:
-
Polarisasi SARA dalam Kampanye: Isu keagamaan atau kesukuan dikapitalisasi sedemikian rupa untuk membangun sentimen emosional, menumbuhkan ketakutan, sekaligus mendiskreditkan lawan politik secara tidak sportif.
-
Politik Eksklusivitas: Narasi yang dibangun mengarah pada anggapan bahwa hanya kelompok tertentu saja yang paling layak memimpin, sementara kelompok lain dianggap sebagai ancaman atau pihak asing yang harus dijauhkan dari tampuk kekuasaan.
-
Mati Rasionya Diskusi Publik: Ketika identitas sudah menjadi panglima, adu rekam jejak, uji kelayakan program kerja, dan debat kebijakan strategis menjadi tidak relevan. Pemilih digiring untuk memilih berdasarkan sentimen kelompok, bukan berdasarkan kompetensi kandidat.
Dampak Destruktif bagi Kohesi Sosial dan Demokrasi
Bahaya terbesar dari politik identitas bukanlah sekadar siapa yang menang atau kalah dalam pemilu, melainkan kerusakan jangka panjang pada jalinan sosial (social cohesion) masyarakat.
Pesta demokrasi yang seharusnya usai dalam hitungan hari atau bulan sering kali meninggalkan luka pertemanan, keretakan keluarga, hingga diskriminasi sosial yang bertahan selama bertahun-tahun. Masyarakat terkotak-kotak ke dalam gelembung informasi masing-masing, di mana kebencian terhadap kelompok lain dipelihara secara sistematis melalui disinformasi dan hoaks di media sosial.
Bagi bangunan demokrasi, politik identitas adalah racun pelan-pelan. Demokrasi membutuhkan ruang publik yang rasional (deliberative democracy) tempat warga negara berdiskusi secara objektif demi kebaikan bersama. Jika ruang tersebut diracuni oleh sentimen primordial, legitimasi hasil pemilu pun akan rapuh karena didasarkan pada ketakutan dan kebencian, bukan pada kesadaran warga negara yang merdeka.
Strategi Menangkal dan Mengikis Politik Identitas
Menghadapi ancaman politik identitas membutuhkan pendekatan komprehensif dari berbagai elemen bangsa:
-
Penegakan Hukum yang Tegas: Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan aparat penegak hukum harus bertindak tanpa kompromi terhadap setiap bentuk kampanye hitam, ujaran kebencian, dan politisasi SARA. Sanksi diskualifikasi atau hukuman pidana yang berat harus dijatuhkan kepada pelaku tanpa pandang bulu.
-
Penguatan Literasi Politik dan Digital: Sebagian besar subur-tidurnya politik identitas dipicu oleh rendahnya literasi dalam memilah informasi. Masyarakat perlu dibekali kemampuan berpikir kritis (critical thinking) agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi provokatif di ruang digital.
-
Keteladanan Elite Politik: Perubahan paling mendasar harus dimulai dari para pemimpin itu sendiri. Jika para elite politik secara konsisten menolak menggunakan cara-cara kotor dan memilih fokus pada adu gagasan, maka akar rumput pun akan perlahan meninggalkan cara-cara berpolitik yang memecah belah.
Penutup
Politik identitas adalah jalan pintas yang merusak peradaban politik. Kemenangan yang diraih di atas reruntuhan persatuan bangsa tidak akan pernah menghasilkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh rakyat.
Sudah saatnya pemilih Indonesia naik kelas: menolak politik kebencian dan mengembalikan esensi pemilu sebagai wadah memilih pelayan rakyat yang kompeten, berintegritas, dan mampu merajut kebinekaan—bukan mereka yang merusaknya demi ambisi kekuasaan sesaat.
- Penulis: hipkacianjur

Saat ini belum ada komentar